
Ketika tiba-tiba ada kiriman misterius berupa puluhan buah duren, mengernyit juga keningku. Siapa yang iseng banget mengirimkan duren segini banyaknya ? Di rumah lagi sendiri. Orangtua berlibur ke Paris. Adik masih di Yogya. Praktis, duren-duren ini harus kunikmati sendiri. Segera kucomot sebilah golok kesayangan bapakku. "Jekk, Jekk.."mulai terdengar suara duren kupotong-potong. Wahh..bener-bener montong nih, besar-besar buahnya..kucoba satu dan enaak bangeet..kucoba lagi, lagi, dan lagi. Habis juga satu duren. Pengen juga nambah satu duren lagi, karena masih ketagihan. Kucabik-cabik lagi kulit duren yang lain, dan terlihatlah buah-buah yang ranum itu. Kunikmati lagi manisnya buah itu, tapi hanya setengah. Aku merasa blenger. Kenyang bangeet..perutku panaas.
Besoknya aku sudah mual melihat duren. Makanya duren-duren itu numpuk saja di dapur. Ya, dari sekian banyak duren aku hanya bisa menikmati satu setengah duren saja. Nikmatnya cuma sedikit dan sebentar saja, gak ada setengah jam. Selebihnya perutku panas.
Pagi itu, kusetel televisi. Ada berita kriminal favorit ibuku. Biasalah, perampokan, kebakaran, pencopetan, pemerkosaan. Pagi itu presenter berita menceritakan tentang sepasang muda-mudi yang tertangkap basah bermesraan di kost-annya. Berita lainnya, ada cewek yang repot-repot meng"urut" perutnya yang sedang melendung karena hamil. Sialnya, si cewek bersama pasangan tidak sahnya tertangkap polisi, dan tidak ketinggalan sang dukun.
Aku jadi teringat duren. Hanya sedikit dan sebentar bisa kunikmati duren itu. Tetapi perutku tidak enak sampai sekarang. Untung cuma makan duren..cowok cewek di TV itu yang menikmati seks bebas yang sedikit dan sebentar kemudian mendapatkan aib yang luar biasa yang bikin malu diri, orangtua dan keluarga. Si cewek yang paling dirugikan, keperawanannya direnggut. Belum lagi siksa di hari pembalasan jika tidak bertaubat. Sedikit sebentar, tapi dampaknya besar dan lama..
Untung aku cuma makan duren...
..